Berita – berita media masa mengenai nilai
tukar rupiah semakin panas, banyaknya spekulasi- spekulasi akan nilai tukar
rupiah yang memburuk semakin menjamur. Lebih - lebih nilai tukar yang telah
melebihi angka Rp 14.000,00 telah menjadi bahan olok- olokan menjadi nomor
telepon McDonald 14025. Kemudian
dalam benak masyarakat bertanya apakah penyebab melemahnya nilai tukar rupiah?
Adanya faktor internal dan eksternal menjadi penyebabnya.
Faktor internal yang pertama
adalah lemahnya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I – 2015. Mata uang suatu negera mencerminkan atau
merefleksikan fundamental ekonomi negara tersebut, yang berarti jika
fundamental suatu negara buruk yang ditandai dengan perlambatan ekonomi maka mata uang negara tersebut akan terdepresiasi.
Begitu pula yang terjadi pada rupiah, pelaku pasar melihat kinerja makro pada
kuartal I - 2015 buruk dan para ekonom menyatakan pertumbuhan ekonomi di
periode itu diprediksi setidaknya bisa mencapai angka 4,9% tetapi realisasinya
hanya 4,7%. Hal ini menyebabkan pasar kecewa sehinga pengusaha beralih ke dollar,
rupiah melemah, dan para investor mulai beranjak keluar ke negara yang memiliki pertumbuhan
ekonomi yang baik seperti Filipina, Vietnam, dan Myanmar.
Lambatnya realisasi janji pemerintah juga menjadi
penyebab internal lainnya. Pasar melihat bahwa sampai kuartal I-2015 atau empat
bulan pertama 2015, janji-janji pemerintah untuk membangun infrastruktur belum
kelihatan hasilnya. Pasar sudah menunggu hampir enam bulan akan terwujudnya
infrastruktur yang memadai, tetapi sayang janji pemeirntah hanya sekadar janji.
Inflasi
yang tinggi adalah penyebab terbesar akan lemahnya nilai rupiah. Pada
kuartal I-2015, pemerintah memperkirakan inflasi akan lebih tinggi 0,3% dari
biasanya. Sampai Maret 2015, inflasi tahunan sesuai konsensus hanya mencapai
6,38%, namun akibat besarnya inflasi bulanan, inflasi tahunan melonjak menjadi
6,69%. Inflasi di Negara Indonesia sekarang ini lebih buruk daripada negara
ASEAN yang rata-rata inflasi tahunannya hanya 4%.
Faktor
eksternal yang pertama adalah adanya isu kebijakan ekonomi baru di Amerika. Isu
itu mengatakan bahwaThe Fed (Bank
Nasional Amerika) akan menaikkan suku
bunga bank untuk memperbaiki perekonomian Amerika yang mengalami krisis pada
tahun 2008. Hal ini akan menyebabkan banyaknya spekulasi spekulasi baru yang
menyebabkan banyaknya dollar yang kembali ke Negara Amerika, tentu saja ini
akan berdampak pada melemahnya nilai tukar di seluruh dunia termasuk rupiah.
Faktor eksternal terbesar yang mempengaruhi
melemahnya mata uang yaitu kebijakan ekonomi dari Negeri Tirai Bambu. Saat ini
Cina sudah melakukan kebijakan devaluasi pada mata uangnya yaitu menurunkan
harga mata uang Yuan sebesar 1,9%. Hal ini pasti akan menyebabkan barang - barang impor dari Cina akan menjadi sangat
murah dan membajiri pasar Internasional, sehingga akan melemahkan produk - produk domestik yang ada di Indonesia.
Banyaknya
pengusaha – pengusaha yang gulung tikar menjadi akibat melemahnya nilai tukar
rupiah karena bahan baku yang menjadi mahal dan sulit didapat. Tingkat
pengangguran semakin tinggi karena banyaknya perusahaan yang bangkrut. Barang –
barang di pasar menjadi langka akibat dari biaya impor menjadi mahal, sedangkan
lima puluh persen barang yang ada di Indonesia adalah barang impor dari negara
asing.
Pada akhirnya, dengan melihat semakin mirisnya
harga rupiah yang anjlok, hanya tinggal
satu harapan kita yaitu Pemerintah Indonesia. Pemerintah Indonesia harus
melakukan segala kebijakan – kebijakan ekonomi terbaik untuk mengembalikan
nilai mata uang Indonesia dimulai dari penyerapan APBN, pembangunan
infrastruktur dipercepat dan sebagainya. Tetapi disamping itu, masyarakat
Indonesia juga tidak hanya berpasrah tangan pada pemerintah, masyarakat
Indonesia harus senantiasa percaya dan
dengan maksimal membantu mewujudkan kebijakan - kebijakan tersebut, karena
pemerintah dan masyarakat Indonesia adalah satu kesatuan yang tak dapat
dipisahkan.