Minggu, 13 September 2015

Lemahnya Nilai Tukar Rupiah

Berita – berita media masa mengenai nilai tukar rupiah semakin panas, banyaknya spekulasi- spekulasi akan nilai tukar rupiah yang memburuk semakin menjamur. Lebih - lebih nilai tukar yang telah melebihi angka Rp 14.000,00 telah menjadi bahan olok- olokan menjadi nomor telepon McDonald 14025. Kemudian dalam benak masyarakat bertanya apakah penyebab melemahnya nilai tukar rupiah? Adanya faktor internal dan eksternal menjadi penyebabnya.
Faktor internal yang pertama adalah lemahnya pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I – 2015. Mata uang suatu negera mencerminkan atau merefleksikan fundamental ekonomi negara tersebut, yang berarti jika fundamental suatu negara buruk yang ditandai dengan perlambatan ekonomi maka  mata uang negara tersebut akan terdepresiasi. Begitu pula yang terjadi pada rupiah, pelaku pasar melihat kinerja makro pada kuartal I - 2015 buruk dan para ekonom menyatakan pertumbuhan ekonomi di periode itu diprediksi setidaknya bisa mencapai angka 4,9% tetapi realisasinya hanya 4,7%. Hal ini menyebabkan pasar kecewa sehinga pengusaha beralih ke dollar, rupiah melemah, dan para investor mulai beranjak keluar ke  negara yang memiliki pertumbuhan ekonomi yang baik seperti Filipina, Vietnam, dan Myanmar.
Lambatnya realisasi janji pemerintah juga menjadi penyebab internal lainnya. Pasar melihat bahwa sampai kuartal I-2015 atau empat bulan pertama 2015, janji-janji pemerintah untuk membangun infrastruktur belum kelihatan hasilnya. Pasar sudah menunggu hampir enam bulan akan terwujudnya infrastruktur yang memadai, tetapi sayang janji pemeirntah hanya sekadar janji.
Inflasi yang tinggi adalah penyebab terbesar akan lemahnya nilai rupiah. Pada kuartal I-2015, pemerintah memperkirakan inflasi akan lebih tinggi 0,3% dari biasanya. Sampai Maret 2015, inflasi tahunan sesuai konsensus hanya mencapai 6,38%, namun akibat besarnya inflasi bulanan, inflasi tahunan melonjak menjadi 6,69%. Inflasi di Negara Indonesia sekarang ini lebih buruk daripada negara ASEAN yang rata-rata inflasi tahunannya hanya 4%.
Faktor eksternal yang pertama adalah adanya isu kebijakan ekonomi baru di Amerika. Isu itu mengatakan bahwaThe Fed (Bank Nasional Amerika)  akan menaikkan suku bunga bank untuk memperbaiki perekonomian Amerika yang mengalami krisis pada tahun 2008. Hal ini akan menyebabkan banyaknya spekulasi spekulasi baru yang menyebabkan banyaknya dollar yang kembali ke Negara Amerika, tentu saja ini akan berdampak pada melemahnya nilai tukar di seluruh dunia termasuk rupiah.
Faktor eksternal terbesar yang mempengaruhi melemahnya mata uang yaitu kebijakan ekonomi dari Negeri Tirai Bambu. Saat ini Cina sudah melakukan kebijakan devaluasi pada mata uangnya yaitu menurunkan harga mata uang Yuan sebesar 1,9%. Hal ini pasti akan menyebabkan barang -  barang impor dari Cina akan menjadi sangat murah dan membajiri pasar Internasional, sehingga akan melemahkan produk -  produk domestik yang ada di Indonesia.
          Banyaknya pengusaha – pengusaha yang gulung tikar menjadi akibat melemahnya nilai tukar rupiah karena bahan baku yang menjadi mahal dan sulit didapat. Tingkat pengangguran semakin tinggi karena banyaknya perusahaan yang bangkrut. Barang – barang di pasar menjadi langka akibat dari biaya impor menjadi mahal, sedangkan lima puluh persen barang yang ada di Indonesia adalah barang impor dari negara asing.

           Pada akhirnya, dengan melihat semakin mirisnya harga rupiah yang  anjlok, hanya tinggal satu harapan kita yaitu Pemerintah Indonesia. Pemerintah Indonesia harus melakukan segala kebijakan – kebijakan ekonomi terbaik untuk mengembalikan nilai mata uang Indonesia dimulai dari penyerapan APBN, pembangunan infrastruktur dipercepat dan sebagainya. Tetapi disamping itu, masyarakat Indonesia juga tidak hanya berpasrah tangan pada pemerintah, masyarakat Indonesia harus senantiasa  percaya dan dengan maksimal membantu mewujudkan kebijakan - kebijakan tersebut, karena pemerintah dan masyarakat Indonesia adalah satu kesatuan yang tak dapat dipisahkan.